coba

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Senin, 28 Desember 2015

makalah bahasa arab



BAB I
MASDAR ISIM MUSYTAQ

Isim Musytaq ialah Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang berbeda dari kata pembentuknya. Isim Musytaq itu ada tujuh macam:
1.      ISIM FA'IL ( اِسْم فَاعِل ) atau Isim Pelaku (yang melakukan pekerjaan).
Isim Fa'il ada dua wazan (pola pembentukan) yaitu:
a) فَاعِلٌ bila berasal dari Fi'il Tsulatsi (Fi'il yang terdiri dari tiga huruf)
b) مُفْعِلٌ bila berasal dari Fi'il yang lebih dari tiga huruf

Fi'il Isim Fa'il

عَلِمَ - يَعْلَمُ (=mengetahui) عَالِمٌ (=yang mengetahui)
نَامَ - يَنَامُ (=tidur)
نَائِمٌ (=yang tidur)
أَكَلَ - يَأْكُلُ (=makan)
آكِلٌ (=yang makan)
أَسْلَمَ - يُسْلِمُ (=menyerah)
مُسْلِمٌ (=yang menyerah)
أَنْفَقَ - يُنْفِقُ (=berinfak)
مُنْفِقٌ (=yang berinfak)
اِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun)
مُسْتَغْفِرٌ (=yang mohon ampun)

Disamping itu dikenal pula istilah bentuk MUBALAGHAH ( مُبَالَغَة ) dari Isim Fa'il yang berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:
Fi'il
Isim Fa'il Isim Mubalaghah
عَلِمَ-يَعْلَمُ
عَالِمٌ عَلِيْمٌ / عَلاَّمٌ (=yang sangat mengetahui)
غَفَرَ-يَغْفِرُ غَافِرٌ
غَفُوْرٌ / غَفَّارٌ (=yang suka mengampuni)
نَامَ-يَنَامُ نَائِمٌ نَئِيْمٌ / نَوَّامٌ (=yang banyak tidur)
أَكَلَ-يَأْكُلُ آكِلٌ
أَكِيْلٌ / أَكَّالٌ (=yang banyak makan)

2. SIFAT MUSYABBAHAH ( صِفَة مُشَبَّهَة ) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa'il tetapi
lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:

Fi'il
Isim Fa'il Sifat Musyabbahah
فَرِحَ-يَفْرَحُ (=senang)
فَارِحٌ
فَرِحٌ (=orang senang)
عَمِيَ-يَعْمَى (=buta)
عَامِيٌ
أَعْمَى (=orang buta)
مَاتَ-يَمُوْتُ (=mati)
مَائِتٌ
مَيِّتٌ smile emotikon orang mati)
جَاعَ-يَجُوْعُ (=lapar)
جَائِعٌ
جَوْعَانٌ smile emotikon orang kelaparan)

3. ISIM MAF'UL ( اِسْم مَفْعُوْل ) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.
Fi'il Isim Maf'ul
غَفَرَ - يَغْفِرُ (=mengampuni) مَغْفُوْرٌ (=yang diampuni)
عَلِمَ - يَعْلَمُ (=mengetahui) مَعْلُوْمٌ (=yang diketahui)
بَاعَ - يَبِيْعُ (=menjual) مَبِيْعٌ (=yang dijual)
قَالَ - يَقُوْلُ (=berkata)
مَقَالٌ (=yang diucapkan)

4. ISIM TAFDHIL ( اِسْم تَفْضِيْل ) ialah Isim yang menunjukkan arti "lebih" atau "paling".

Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah: أَفْعَلُ . Contoh:
Isim Fa'il Isim Mubalaghah Isim Tafdhil
عَالِمٌ عَلِيْمٌ (=sangat mengetahui) أَعْلَمُ (=yang lebih mengetahui)
كَابِرٌ كَبِيْرٌ (=sangat besar) أَكْبَرُ (=yang lebih besar)
قَارِبٌ قَرِيْبٌ (=sangat dekat) أَقْرَبُ (=yang lebih dekat)
فَاضِلٌ فَضِيْلٌ (=sangat utama) أَفْضَلُ (=yang lebih utama)

Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:
Sifat Musyabbahah
Isim Tafdhil
شَدِيْدٌ (=yang sangat)
أَشَدُّ (=yang lebih sangat)
حَقِيْقٌ (=yang berhak) أَحَقُّ (=yang lebih berhak)
عَزِيْزٌ (=yang mulia)
أَعَزُّ (=yang lebih mulia)

5. ISIM ZAMAN ( اِسْم زَمَان ) yaitu Isim yang menunjukkan waktu dan ISIM MAKAN ( اِسْم مَكَان ) yaitu Isim yang menunjukkan tempat.
Fi'il
Isim Zaman/Makan
كَتَبَ / يَكْتُبُ (=menulis)
مَكْتَبٌ (=kantor)
لَعِبَ / يَلْعَبُ (=bermain)
مَلْعَبٌ (=tempat bermain)
سَجَدَ / يَسْجُدُ (=bersujud)
مَسْجِدٌ (=masjid)
وَلَدَ / يَلِدُ (=melahirkan)
مَوْلِدٌ (=hari kelahiran)
وَعَدَ / يَعِدُ (=menjanjikan)
مَوْعِدٌ (=hari yang dijanjikan)
اِجْتَمَعَ / يَجْتَمِعُ (=berkumpul)
مُجْتَمَعٌ (=perkumpulan, pertemuan)

6. ISIM ALAT ( اِسْم آلَة ) yaitu Isim yang menunjukkan alat yang digunakan untuk melakukan suatu Fi'il atau pekerjaan.
Fi'il
Isim Alat
فَتَحَ / يَفْتَحُ (=membuka)
مِفْتَاحٌ (=kunci)
وَزَنَ / يَزِنُ (=menimbang)
مِيْزَانٌ (=timbangan)
جَلَسَ / يَجْلِسُ (=duduk)
مَجْلِسٌ (=tempat duduk)
جَهَرَ / يَجْهَرُ (=nyaring)
مِجْهَرٌ (=pengeras suara)

BAB II

MUJARRAD DAN MAZID


.
Kata kerja/kalimah fi’il terbagi menjadi Mujarrad dan Mazid. Fi’il Mujarrad adalah Fi’il yang semua huruf-hurufnya asli. Fi’il Mazid adalah fi’il yang ditambahi satu haruf atau lebih pada huruf-hurufnya yg asli.
Fi’il Mujarrad terdapat dua bagian, Tsulatsi dan Ruba’i:
  • Fi’il Tsulatsi yang Mujarrad (kalimah bangsa 3 huruf asli tanpa tambahan) ada 6 Wazan. Silahkan buka disini
  • Fi’il Ruba’I yang Mujarrad (kalimah bangsa 4 huruf asli tanpa tambahan) ada 1 Wazan. Silahkan buka disini
Fi’il Mazid juga ada dua bagian, Tsulatsi dan Ruba’i.
Fi’il Tsulatsi yang Mazid (kalimah bangsa 3 huruf asli berikut tambahan 1/ 2/ 3 Huruf):
Fi’il Ruba’i yang Mazid (kalimah bangsa 4 huruf asli berikut tambahan 1 / 2 huruf):
Dengan demikian kalimah fi’il dalam bahasa arab, secara pertimbangan jumlah hurufnya terdapat empat bentuk; 3 huruf, 4 huruf, 5 huruf dan 6 huruf. dan kalau dipertimbangkan dari jumlah wazannya terdapat 22 bentuk wazan.
PENTING UNTUK DIKETAHUI…!
  1. Tidak musti semua kalimah fi’il mujarrad bisa diberlakukan untuk fi’il mazidnya, contoh: لَيسَ، “bukan” خَلا “selain” dan semisalnya dari semua fi’il Jamid. Begitupun sebaliknya tidak musti tiap kalimah fi’il bentuk mazid bisa berlaku untuk bentuk mujarradnya, contoh: اجْلَوَّذَ, “tergesa-gesa” اعْرَنْدَى “mengeras” dan semisalnya dari fi’il-fi’il yang berwazan افْعَوَّلَ atau افْعَنْلَى . Begitupun juga tidak musti bentuk fi’il mazid yang satu, bisa dipakai bentuk fi’il Mazid yang lain, akan tetapi semua pemakaian bentuk kalimah terlaksana secara sima’i atau bawaan bangsa Arab. Kecuali sebagai pelainan, yaitu untuk Fi’il-fi’il Tsulatsi Lazim yang akan kita Muta’addikan dengan cara memasang Hamzah pada awal kalimah, misalnya: خَرَجَ “keluar” dimuta’addikan menjadi أَخْرَجَ “mengeluarkan”.
  2. Bilamana pada fi’il madhi itu berpola wazan فَعَل (‘ain fi’ilnya berharkah fathah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan antara يَفْعَلُ atau يَفْعُلُ atau يَفْعِلُ. (‘ain fi’ilnya berharkah fathah/dhammah/kasrah). Dan bilamana fi’il madhi itu berwazan فَعِل (‘ain fi’ilnya berharkah kasrah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan يَفْعَلُ atau jarang berwazan يَفْعِلُ (‘ain fi’ilnya berharkah fathah/kasrah) saja. Dan bilamana fi’il madhi itu berwazan فَعُل (‘ain fi’ilnya berharkah dhammah), maka dapat dipastikan bahwa bentuk fi’il mudhari’nya berwazan يَفْعُلُ (‘ain fi’ilnya berharkah dhammah) saja.
  3. Wazan-wazan fi’il bangsa tiga huruf yang paling banyak ditemukan dalam penggunaanya menurut urutannya adalah sebagai berikut: pertama yang paling banyak ditemukan adalah kalimah fi’il berpola wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ , berikutnya wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ , kemudian wazan فَعَلَ – يَفْعَلُ , kemudian wazan فَعِلَ – يَفْعَلُ , kemudian wazan فَعُلَ – يَفْعُلُ , hingga yang paling jarang yaitu berpola wazan فَعِلَ – يَفْعِلُ.
  4. Untuk mengamati wazan kalimah bagsa tiga huruf, perlu diperhatikan adalah bentuk wazan fi’il madhi-nya berikut fi’il mudhari’nya secara bersamaan, dikarenakan berbeda-bedanya bentuk fi’il mudhari’ untuk satu pola wazan fi’il madhi. Dan ada juga yang cukup memperhatikan bentuk Fi’il Madhinya saja, yaitu untuk tiap-tiap kalimah yang berwazan fi’il madhi dengan satu bentuk fi’il mudhari tanpa berbeda-beda, seperti wazan فَعُلَ dengan satu bentuk fi’il mudhari’ يَفْعُلُ.
  5. Ketentuan kalimah fi’il tsulatsi dalam mengikuti suatu wazan tertentu dari 6 wazan tsulatsi mujarrad di atas, bergantung pada ketentuan secara sima’i dari orang arab. Maka tidak bisa dikokohkan melalui pengetahuan secara kaidah-kaidah. Kecuali ada sedikit kemungkinan yang paling mendekati dengan melihat kaidah-kaidah berikut ini:Untuk Fi’il Madhi yang ‘ain fi’ilnya berharkah fathah, apabila huruf awalnya (fa’ fi’ilnya) terdiri dari huruf hamzah atau wau, maka lazimnya banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ contoh: أسَر – يأسِر | أتَى – يأتِي | وعَد – يعِد dan tidak lazim seperti contoh: أخَد – يأخُذُ | أكَل – يأكُل | أمَر – يأمُر .Apabila fi’il madhinya termasuk kalimah bina’ Mudha’af yang Muta’addi, maka yang banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ seperti contoh: مدَّ – يمُدُّ | صَدَّ – يصُدُّ dan apabila terdiri dari Bina’ Mudha’af Lazim maka yang banyak berpola wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ seperti contoh:خّفَّ – يخِفّ | شدَّ – يشِدّ .
Apabila fi’il madhinya termasuk kalimah bina’ Ajwaf ya’iy atau bina’ Naqish ya’iy, maka yg banyak ikut wazan فَعَلَ – يَفْعِلُ seperti: باع – يبيع | رمَى – يرمِي dan bilamana termasuk bina’ ajwaf wawi atau Naqish wawi, maka yg banyak ikut wazan فَعَلَ – يَفْعُلُ seperti: قَام – يقُوم | دعَا – يدعُو . dll.
  1. Semua Fi-il-fi’il yang berpola wazan فَعُلَ – يَفْعُلُ semuanya adalah fi’il lazim. kata kerja seperti wazan ini adalah menunjukkan tabi’at/sifat/watak. seperti contoh:  ظرُف – فضُل – حسُن – قبُح “cerdas” – “utama” – “bagus” – “jelek”. dll.
  2. Semua Fi-il-fi’il yang berpola wazan فَعِلَ – يَفْعَلُ  apabila ia Lazim, maka sering menunjukkan tentang kebahagiaan atau kesusahan. contoh: طَرِبَ “bingung” فَرِحَ “gembira” حَزِنَ “sedih”. atau sering menunjukkan tentang Berisi atau Kosong seperti شبِعَ “kenyang” عطِش “haus”. atau banyak menunjukkan tentang cacat atau sempurna. contoh عَمِشَ “trahum/mata kabur/min” غيِدَ “bengkok/miring” dll.
  3. semua fi’il yang berwazan فَعَلَ – يَفْعَلُ dapat dipastikan ‘Ain fi’il atau lam fi’il-nya terdiri dari huruf Halaq (ح – خ – ع – غ – هـ – أ). contoh: فتَح – نشَأ dll.

BAB III
RUBAI MUJAROD

A.  Pengertian Fi’il Ruba’i
Fi’il Ruba’i ialah kalimat yang huruf asalnya ada empat (4). Sedangkan Fi’il Ruba’i terdiri dari tiga macam, yaitu:
1.    Fi’il Ruba’i Mujarrad, contoh      : دَخْرَجَ
Fi’il Ruba’i Mujarrad ialah kalimah fi’il yang madzinya memuat 4 huruf asal dan bebas dari huruf tambahan
2.    Fi’il Ruba’i Mulhaq, contoh         : بَيْطَرَ
      Fi’il Ruba’i Mulhaq ialah kalimah yang fi’il madzinya terdiri dari empat huruf, yang tiga berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf tambahan sebagai ilhaq.
3.    Fi’il Ruba’i Mazid, contoh           : تَدَخْرَجَ
      Fi’il Ruba’i Mazid ialah kalimah yang fi’il madzinya memuat huruf lebih dari empat huruf, dengan rincian yang empat berupa huruf asal sedang yang lain berupa huruf tambahaan.
Untuk lebih jelasnya, akan disebutkan secara rinci mengenai Fi’il Rubai mujarrad dan mazied berikut pengertian, pembagian serta contohnya ataau wazannya.

B. Fi’il Ruba’i Mujarrad
Fi’il Mujarrad yaitu fi’il yang semua  hurufnya adalah huruf asli. Fi’I ini  belum mendapatkan tambahan.
Fi’il Mujarrad secra garis besar dibagi menjadi dua macam yaitu:
a. Fi’il  Tsulasi Mujarrad
Fi’il tsulatsi mujarrod ialah kalimat fi’il madzinya yang terdiri dari tiga huruf dan bebas dari huruf tambahan. Contoh :­­نصر, ضرب  . Adapun fi’il tsulatsi mujarrod itu seluruhnya ada 6 (enam) bab. Dan diantara tiap-tiap bab dapat dibedakan dengan ada kharokat ‘ain fi’il yang ada pada fi’il madzi dan fi’il mudlori sebagaimana keterangan pada nadzom berikut ini :
فتح ضم, فتح كسر, فتحتان, كسر فتح, ضم ضم, كسرتان  


فتح ضم .1          : ‘ain fi’il dibaca fathah pada fi’il madzi dan dibaca dlomah pada fi’il mudlori’, wazannya adalah فعل يفعل (bab satu)
Dan fi;il lazim ialah kalimat yang tidak membutuhkan maf’ul bih.
 Contoh : خرج زيد    =  Zaid telah keluar

فتح كسر .2         : ‘ain fi’il dibaca fathah pada fi’il madzi dan dibaca kasroh pada fi’il mudlori’, wazannya adalah فعل يفعل (bab dua)
Bab dua ini ditandai dengan ‘ain fi’il yang dibaca fathah pada fi’il madzi dan dibaca kasroh pada fi’il mudlori’nya. Dan wazannya adalah فعل يفعل . adapun lafadz-lafadz yang masuk bab dua kebanyakan berupa fi’il mu’tadi.
Contoh : ضربت زيدا            Saya memukul Zaid

فتحتا ن .3           : ‘ain fi’il dibaca fathah pada fi’il madzi dan pada fi’il mudlori’, wazannya adalah فعل يفعل (bab tiga)
Bab tiga ditandai dengan ‘ain fi’il yang dibaca fathah padafi’il madzi dan pada fi’il mudlori’. Wazannya adalah فعل يفعل
Adapun lafadz-lafadzyang masuk pada bab tiga kebanyakan berupa fi’il mu’tadi.
Contoh : فتح زيد الباب           Zaid membuka pintu
Dan terkadang berupa fi’il lazim.
Contoh : البذرنبت         = Tumbuh itu benih
Lafadz-lafadz yang ikut bab tiga diisyaratkan ‘ain fi’il atau lam fi’ilnya berupa huruf halaq yang jumlahnya ada enam yaitu :
, عين, خاء, حاء, هاء, همزة غين[2]
Contoh :    , يذهب, نشأ, ينشأ ذهب

كسر فتح .4         : ‘ain fi’il dibaca kasroh pada fi’il madzi dan dibaca fathah pada fi’il mudlori’, wazannya adalah فعل يفعل (bab empat)
Bab empat ditandai dengan ‘ain fi’il yang dibaca kasroh pada fi’il madzi dan dibaca fathah pada fi’il mudlori’.
Wazannya adalah فعل يفعل
Lafadz-lafadz yang ikut bab empat kebanyakan berupa fi’il muta’adi.
Contoh :علم زيد المسألة         = Zaid mengetahui masalah
Dan terkadang berupa fi’il lazim, namun sedikit.
Contoh : زيدوجل     =   Zaid merasa takut 
Dan lafadz-lafadz yang ikut bab empat ini banyak menunjukan arti penyakit, susah, gembira.       
Contoh :
سقم                         Sakit
مرض                     Sakit
Dan juga menunjukkan arti warna, ‘aib dan hiasan.
Contoh : شهب     Kelabu[3]

ضم ضم .5          : ‘ain fi’il dibaca dlomah pada fi’il madzi dan pada fi’il mudlori’. Wazannya adalah فعل يفعل (bab lima)
Bab lima ditandai dengan ‘ain fi’il yang dibaca dlomah pada fi’il madzi dan fi’il mudlori’. Wazannya adalah : فعل يفعل
Adapun lafadz-lafadz yang termasuk bab lima semuanya berupa fi’il lazim karena bab lima ini khusus diikuti fi’il-fi’il yang menunjukkan arti watak atau tabi’at dan sifat-sifat pembawaan yang melekat (tidak mudah luntur) seperti : pemberani, penakut, bagus, jelek, kuning, hitam dan sebagainya. Sedangkan lafadz-lafadz yang menunjukkan arti demikian ini tidak membutuhkan maf’ul (tidak berhubungan dengan maf’ul) namun hanya membutuhkan / berhubungan dengan fa’il saja, maka dari itu hukkumnya lazim yang akhirnya bab lima tidak ada isim maf’ul.
كسرتان .6          : ‘ain fi’il dibaca kasroh pada fi’il madzi dan pada fi’il mudlori’. Wazannya adalah فعل يفعل (bab enam)
Bab enam ditandai dengan ‘ain fi’il yang dibaca kasroh pada fi’il madzi dan fi’il mudlori’nya. Wazannya adalah فعل يفعل
Adapun lafadz-lafadz yang termasuk bab enam kebanyakan berupa fi’il muta’adi.
Contoh : حسب زيدعمرواالفاضل  zaid menyangka Amr orang yang utama
Dan terkadang berupa fi’il lazim namun sedikit.
Contoh :    ومق زيد      = zaid telah mabuk cinta[4]
b.       Fi’il Ruba’i Mujarrad
Pengertian Fi’il Ruba’i Mujarrad ialah kalimah fi’il yang madzinya memuat 4 huruf asal dan bebas dari huruf tambahan. Fi’il Ruba’i Mujarrad itu babnya hanya satu, yaitu mengikuti wazan فَعْلَلَ seperti lafad دَخْرَجَ , karena Fi’il Ruba’i itu terlalu berat disebabkan oleh hurufnya yang banyak, maka orang arab tidak mentasrif seperti halnya fi’il tsulasi mujarrod dengan membaca fathah, kasroh dan dlomah pada ‘ain fi’ilnya, tetapi hanya membaca Fi’il Ruba’i Mujarrod  dengan fathah.
Fi’il Ruba’i Mujarrad terdapat beberapa bentuk, yaitu:
1.   Fi’il Ruba’i Mujarrad berbentuk muta’adi. Contoh: دَخْرَجَ زَيْدٌ الْحَجَرَ (Zaed mengglindingkan batu)
2.   Fi’il Ruba’i Mujarrad berbentuk lazim. Contoh: دَرْبَجَ زَيْدٌ (Zaed lari ketakutan)
3.   Fi’il Ruba’i Mujarrad berbentuk manhut, yaitu: Fi’il Ruba’i yang dipetik dari susunan dua kata atau lebih dengan cara meringkas untuk menunjukkan hikayah ucapan pada susunan tersebut dan hal ini oleh ahli sorof  dinamakan “manhut”. Contoh: بَسْمَلَ artinya mengucapkan بِسْمِ الله , حَسْبَلَ artinya mengucapkan حَسْبِى اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ.
Fi’il Ruba’i manhut ini hukumnya khilaf diantara ulama’ shorof, menurut jumhur ulama’ hukumnya tidak qiyasi dan menurut muhaqqiqin hukumnya qiyasi. Maka menurut muhaqqiqin setiap susunan yang memungkinkan diringkas menjadi satu kalimah boleh dilakukan manhut, dalam hal ini tidak disyaratkan mengambil kalimah dengan sempurna atau mangambil sebagian dari tiap-tiap kalimah yang ada akan tetapi yang penting menjaga tertibnya huruf. Contoh selain diatas: حَمْدَلَ dipetik dari  اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ, سَبْحَلَ dipetik dari سُبْحَانَ اللهُ , سَمْعَلَ dipetik dari  اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ, طَلْبَقَ dipetik dari اَطَالَ اللهُ بَقَاكَ .
C.     Fi’il Ruba’i Mulhaq
Fi’il Ruba’i Mulhaq ialah kalimah yang fi’il madzinya terdiri dari empat huruf, yang tiga berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf tambahan sebagai ilhaq.
Ilhaq ialah menjadikan kalimat dengan menambahkan huruf agar sama dengan kalimat lain dalam bilangan huruf, jenis harokat dan sukunnya serta sama dalam tasrifnya, seperti lafadz: قَلْنَسَ dan جَهْوَرَ asalnya قَلَسَ dan جَهَرَ kemudian ditambahkan huruf wawu dan nun karena disamakan dengan دَخْرَجَ dengan tujuan agar tasrif dan lafadznya sama.
Fi’il Ruba’i Mulhaq menurut ulama’ basrah jumlahnya ada 6 bab, yaitu: فَعْلَلَ، فَوْعَلَ، فَيْعَلَ، فَعْوَلَ، فَعْيَلَ، فَعْلَى

Dan menurut ulama’ kuffah ada 8 bab dengan menambahkan 2 bab lagi, yaitu: فَلْفَلَ dan فَعْنَلَ.  Didalam amtsilatut tasrhifiyah ruba’i mulhaq ada 7 bab dengan menggugurkan bab فَلْفَلَ,  hal ini cocok dengan apa yang disebutkan oleh Al Fadlil Al Ashom dalam kitab Mizanul adab, bahwa: ruba’i mulhaq ada 7 bab, diantaranya ialah:
  فَعْلَلَ يُفَعْلِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan yang sejenis dengan lam fi’ilnya. Wazannya adalahفَعْلَلَ يُفَعْلِلُ فَعْلَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:جَلْبَبَ زَيْدٌ الْمَالَ  Zaed menarik/mengambil harta (muta’adi segi lafadz dan ma’na), جَلْبَبَ زَيْدٌ  Zaid memakai selimut (muta’adi segi ma’na saja)
فَوْعَلَ يُفَوْعِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan wawu diantara fa’ dan ‘ain fi’il. Wazannya adalahفَوْعَلَ يُفَوْعِلُ فَوْعَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk lazim, tidak ada yang muta’adi, contoh:  حَوْقَلَ زَيْدٌ Zaed tidak kuat bersetubuh.
فَيْعَلَ يُفَيْعِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan ya’ diantara fa’ dan ‘ain fi’il. Wazannya adalah فَيْعَلَ يُفَيْعِلُ فَيْعَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:بَيْطَرَ زَيْدٌ الْقَلَمَ  Zaed memotong belah ranting pohon.
فَعْوَلَ يُفَعْوِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan wawu diantara ‘ain dan lam fi’il. Wazannya adalah فَعْوَلَ يُفَعْوِلُ فَعْوَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:جَهْوَرَ زَيْدٌ الْقُرْاَنَ  Zaed mengeraskan bacaan Al-Qur’an.
فَعْيَلَ يُفَعْيِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan ya’ diantara ‘ain dan lam fi’il. Wazannya adalah فَعْيَلَ يُفَعْيِلُ فَعْيَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:عَثْيَرَ زَيْدٌ  Zaed terpeleset kakinya.
فَعْلَى يُفَعْلِى
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan ya’ di akhirnya. Wazannya adalah فَعْلَى يُفَعْلِى فَعْلاَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:سَلْقَيْتُ زَيْداً  Saya menidurkan zaed dengan terlentang.
فَعْنَلَ يُفَعْنِلُ
Bab ini ditandai dengan fi’il madzi yang memuat 4 huruf dengan huruf tambahan nun diantara ‘ain dan lam fi’il. Wazannya adalah فَعْنَلَ يُفَعْنِلُ فَعْنَلَةً . Lafad-lafadnya berbebtuk muta’adi, contoh:قَلْنَسَ زَيْدٌ   Zaed memakai kopyah.
Menurut ulama basroh bab ini tidak termasuk rubai mulhaq tetapi rubai mujarrad, maka menurut pendapat ini mulhaq hanya 6 bab dan menurut ulama kuffah digolongkan rubai mulhaq.
D.     Fi’il Ruba’i Mazied
Fi’il Ruba’i Mazid ialah kalimah yang fi’il madzinya memuat huruf lebih dari empat huruf, dengan rincian yang empat berupa huruf asal sedang yang lain berupa huruf tambahaan.
Contoh:
1.     Wazan تَفَعْلَلَ ditambah ta’, seperti تَدَخْرَجَ (menjadi terguling), asalnya  دَخْرَجَ (tergulingkan).
2.     Wazan اِفْعَنْلَلَ ditambah hamzah dan nun, seperti اِخْرَنْجَمَ  (menjadi berkumpul), asalnya خَرْجَمَ(mengumpulkan/berdesakan).
3.     Wazan اِفْعَلَلَّ ditambah hamzah dan takrar lam fi’il yang kedua, seperti اِقْشَعَرَّ (sangat mengerut), asalnya قَشْعَرَ (mengerut).
Secara garis besar fi’il ruba’i mazid dibagi menjadi dua, yaitu:
a.      Fi’il ruba’i mazid khumasi
Fi’il ruba’i mazid khumasi ialah kalimah yang fi’il madlinya terdiri dari lima huruf, yang empat berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf tambahan.
Contoh: تَجَلْبَبَ
Adapun huruf tambahan yang terdapat pada fi’il ruba’i mazid khumasi ini hanya ada satu, yaitu: ta’ yang bertempat dipermulaan. Maka dari itu babnya ada satu, yaitu بَابَ التَّفَعْلَلَ
Dalam bab ini fi’il ruba’i mujarod diikutkan wazan تَفَعْلَلَ dengan menambah huruf ta’ dipermulaan mempunyai dua faidah, yaitu:
1.   Menunjukkan arti muthawa’ah dari wazan فَعْلَلَ, Contoh: دَخْرَجَتْ الحَجَرَ فَتَدَخْرَجَ Saya mengglindingkan batu maka menggelindinglah batu itu.
2.   Menunjukkan arti sama dengan arti mujarrodnya, Contoh: تَلأْلأ الزُّجَاجَ Kaca itu mengkilat. Lafad تَلأْلأ maknanya sama dengan maknanya lafadz لأْلأ (ruba’i mujarrod)
Fi’il tsulatsi yang diilhaqkan (disamakan) dengan تَدَخْرَجَ
Adapun fi’il tsulatsi ini dapat disamakan (diilhaqkan) dengan lafad تَدَخْرَجَ dengan cara menambahkan dua huruf ta’ dan huruf wawu / mim / ya’ / tadl’if. Ini mempunyai dua fa’idah, yaitu:
1.   Menunjukkan arti muthawa’ah dari lafadz yang ilhaq pada دَخْرَجَ, Contoh: جَلْبَبْتُ زَيْدًا فَتَجَلْبَبَ Saya pakaikan baju kurung pada zaed, maka zaed berbaju kurunglah dia.
2.   Menunjukkan faedah tasybih artinya fa’il menyerupai asal fi’il, Contoh: تَشَيْطَنَ عَمْرٌوUmar berbuat seperti perbuatan syaetan.
Adapun fi’il tsulatsi mulhaq  dengan تَدَخْرَجَ jumlahnya ada 7 bab, yaitu:
تَفَعْلَى تَفَعْيَلَ تَفَعْوَلَ تَفَيْعَلَ تَمَفْعَلَ تَفَعْوَلَ تَفَعْلَلَ
تَفَعْلَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf yang sejenis dengan lam fi’il akhirnya.
Contoh: جَلْبَبْتُ زَيْدًا فَتَجَلْبَبَ   Aku pakaikan baju pada zaed, maka berbajulah dia.
تَفَوْعَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf wawu diantara fa’ dan ‘ain fi’il.
Contoh: جَوْرَبُتُ زَيْدًا فَتَجَوْرَبَ Aku pakaikan kaos kaki pada zaed, maka berkaos kakilah dia.
تَمَفْعَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf mim dipermulaan fi’il.
Contoh: تَمَسْكَنَ زَيْدٌ  Zaed menjadi miskin.
تَفَيْعَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf ya’ diantara fa’ dan ‘ain fi’il.
Contoh: تَشَيْطَنَ زَيْدٌ  Zaed melakukan perbuatan yang dimakruhkan
تَفَعْوَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf wawu diantara ‘ain dan lam fi’il.
Contoh:  تَرَهْوَكَ زَيْدٌ  Zaed berjalan dengan sombong
  تَفَعْيَلَ
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf ya’ diantara ‘ain dan lam fi’il.
Contoh: تَشَريَفَ  memetik
  تَفَعْلَى
Bab ini ditandai dengan fi’il madli yang memuat lima huruf dengan menambahkan huruf ta’ dipermulaan dan huruf ya’ diakhirnya.
Contoh: سَلْقَيْتُهُ فَتَسَلْقَى  Saya menidurkan dengan terlentang, maka tidurlah ia dengan terlentang.
b.      Fi’il ruba’i mazid sudasi
Fi’il ruba’i mazid sudasi ialah kalimah yang fi’il madlinya memuat enam huruf, yang empat berupa huruf asal dan yang dua berupa huruf tambahan.
Contoh:  اِخْرَنْجَمَ dinamakan sudasi karena jumlah hurufnya ada enam.
Adapun huruf tambahan pada bab ini ada 2, maka babnya juga ada 2,yaitu:
1.         Hamzah washol yang ada dipermulaan dan huruf nun setelah ‘ain fi’il ( اِفْعَنْلَلَ )
2.         Hamzah washol beserta tadl’if lam fi’ilnya ( اِفْعَلَلَّ )
اِفْعَنْلَلَ
Fi’il rubai mujarrad dipindah ikut wazan اِفْعَنْلَلَ dengan menambahkan hamzah washol dipermulaan dan huruf nun setelah ‘ain fi’il, mempunyai faidah: muthawa’ah dari wazan  فَعْلَلَ  (ruba’i mulhaq).
Contoh: خَرْجَمْتُ الاِبِلَ فَاخْرَنْجَمَ Saya mengumpulkan unta maka berkumpulah unta itu.
Fi’il Tsulatsi Mujarrad yang diilhaqkan (disamakan) pada اِخْرَنْجَمَ  
Adapun fi’il tsulatsi mujarod yang disamakan (diilhaqkan) dengan lafad اِخْرَنْجَمَ (ruba’i mazid sudasi) ini mempunyai dua bab, yaitu: اِفْعَنْلَلَاِفْعَنْلَى
اِفْعَنْلَلَ
Fi’il tsulatsi diilhaqkan (disamakan) pada اِخْرَنْجَمَ dengan menambahkan huruf hamzah washol dan huruf nun setelah ‘ain fi’il serta tadl’if lam fi’ilnya, mempunyai faedah mutowa’ah dari fi’il lazim.
Contoh:  زَيْدٌاِقْعَنْسَسَZaed sangat  mengedek (ngedet : jawa)
Dalam kitab Talhis diterangkan bahwa bab ini disamping berfaedah mutowa’ah juga berfaedah mubalaghoh. Lafadz اِقْعَنْسَسَ dengan ziadah hamzah dan nun berfaedah mutowa’ah dan mubalaghoh sebagaimana dalam اِخْرَنْجَمَ , sedangkan tadl’if berfaedah ilhaq.
اِفْعَنْلَى
Fi’il tsulatsi diilhaqkan (disamakan) pada اِخْرَنْجَمَ dengan menambahkan huruf hamzah washol dipermulaan, huruf nun setelah ‘ain fi’il dan huruf ya’ diakhir kalimah, mempunyai faedah mutowa’ah dari fi’il lazim (فَعْلَى)
Contoh:  اِسْلَنْقَى زَيْدٌ  Zaed tidur dengan terlentang.
Lafadz اِسْلَنْقَى dengan ziadah hamzah dan nun berfaedah mutowa’ah, sedangkan ya’ berfaedah ilhaq.
اِفْعَلَلَّ
Fi’il rubai mujarrod dipindah ikut wazan اِفْعَلَلَّ dengan menambahkan hamzah washol dipermulaan dan tadl’if lam fi’ilnya, mempunyai faidah: memubalaghahkan makna fi’il lazim.
Contoh: اِقْشَعَرَّ الْجِلْدُ Kulit itu sangat mengerut.

4: Pembahasan mufrod, mutsanna dan jama'

A. Isim mufrod
Adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang satu atau kata tunggal
Contoh :
مُؤْمِنٌ (mu’minun) = seorang lmukmin
مُؤْمِنَةٌ(mu’minatun) = seorang mukminah
B. Mutsanna
Adalah isim yang menunjukkan bilangan dua atau dobel.
Contoh :
مُؤْْمِنَانِ/ مُؤْْمِنَيْنِ       (mu’minaani/mu’minaini) = dua orang mukmin
مُؤْمِنَتَانِ/ مُؤْمِنَتَيْن   (mu’minataani/mu’minataini) =dua orang mukminah

Dari contoh di atas, untuk mengubah isim mufrod menjadi isim mutsanna adalah dengan cara menambahkan huruf ا + ن (alif dan nun) atau ي + ن (ya dan nun).
(mu’minaani) مُؤْمِنٌ + ا + ن = مُؤْْمِنَانِ
(mu’minataani) مُؤْمِنَةٌ + ا + ن = مُؤْمِنَتَان
(mu’minaini) مُؤْمِنٌ + ي + ن = مُؤْْمِنَيْنِ
(mu’minataini) مُؤْمِنَةٌ + ي + ن = مُؤْمِنَتَيْن

Jamak terbagi menjadi tiga, ada yang disebut dengan jamak mudzakkar salim, C. Jamak
Adalah isim yang menunjukkan bilangan lebih dari 2 atau banyak.
jamak muannats salim dan jamak taksir.
- Jamak mudzakkar salim
Jamak yang menunjukkan laki-laki yang dibuat dengan cara menambahkan huruf و (wau) + ن (nun) atau ي (ya) + ن (nun) pada isim mufrodnya.
Contoh:
كَافِرٌ (kaafirun) menjadi كَافِرُوْنَ/كَافِرِيْنَ (kaafiruuna/kaafiriina) =orang-orang kafir
- Jamak muannats salim
Jamak yang menunjukkan perempuan yang dibuat dengan cara menambahkan huruf ا (alif) + ت (ta) pada akhir isim mufrodnya.
Contoh :
مُدَرِّسَةٌ (mudarrisatun) menjadi مَدَرِّسَاتٌ (mudarrisaatun) = guru-guru perempuan
- Jamak taksir
Jamak yang berubah dari bentuk mufrodnya. Dalam jamak ini, tidak ada kaidah untuk membuat jamak taksir seperti jamak mudzakkar atau muannats salim. Sehingga untuk mengetahuinya dengan menggunakan kamus atau banyaknya membaca dan menelaah kitab.
Contoh :
قَلْبٌ (qolbun) menjadi قُلُُوْبٌ (quluubun) = hati
رَسُوْلٌ (rosuulun) menjadi رُسُلٌ (rusulun) = rosul
عَالِمٌ (‘aalimun) menjadi عُلَمَاءُ (‘ulamaa u) = orang yang berilmu
Catatan:
Suatu isim mufrod hanya mempunyai salah satu bentuk jamak, entah itu jamak mudzakkar saja, jamak muannats saja atau jamak taksir saja, dan sangat jarang ditemukan suatu isim mufrod yang mempunyai dua bentuk jamak, walaupun ada isim mufrod yang mempunyai dua isim jamak sekaligus, seperti kata ناصر (naashirun)=orang yang menolong.
ناصر (naashirun) menjadi ناصرون (naashiruuna) = jamak mudzakkar salim
ناصر (naashirun) menjad أنصار (anshoorun) = jamak taksir



BAB IV

FI’IL MA’ANI FI'IL MA'LUM  - FI'IL MAJHU


Bentuk dan jenis huruf bermacam-macam, ada yang disebut dengan huruf mabani dan ada yang disebut dengan huruf ma’ani.
1. Huruf mabani (حَرْفُ مَبَانِي)
Adalah huruf-huruf hijaiyah selain huruf ا و ي , karena ketiga huruf tersebut dikatakan sebagai huruf ilat (حَرْفُ العِلَّةِ) atau huruf penyakit.
2. Huruf ma’ani (حَرْفُ مَعَانِي)
Adalah huruf-huruf yang mempunyai arti
Contoh :
اَوْ     atau
وَ      dan
ثُمََّ      kemudian
اِذَا     ketika
لِ      milik
Jenis-jenis huruf ma’ani bermacam-macam diantaranya :
a. Huruf jar (حرف جَارٍ) yang telah kita bahas pada pelajaran kedua.
b. Huruf qosam (حرف قسم) atau disebut juga huruf sumpah. Huruf qosam ada tiga, yakni و ت ب
Contoh :
وَاللهِ – بِاللهِ – تَاللهِ         (demi Allah)
Namun, dari ketiga huruf sumpah di atas, huruf ت hanya boleh digunakan untuk sumpah atas nama Allah ta’ala, adapun huruf yang lainnya boleh digunakan untuk selain nama Allah ta’ala.
c. Huruf athof     (حرف العطف)
Adalah huruf yang digunakan untuk menggabungkan dua kata.
Contoh :
و (dan) misal جَاءَ مُحَُّمَدٌ وَ حَسَنَ      (Muhammad dan Hasan datang)
او (atau) misal ضَرَبَ حَسَنٌ كلَْبًا اَوْ قِطًا     (Hasan memukul anjing atau kucing)
ثم (kemudian) misal مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ    (atas kehendak Allah kemudian kehendakmu)

Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa ada huruf yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan letak dan kedudukan dalam kalimat, seperti huruf و , disisi lain ia bisa sebagai huruf athof dan disisi lain dia bisa menjadi huruf qosam. Untuk mengetahuinya dapat dilihat dari arti atau kontek kalimat yang digunakan.
Masih banyak lagi jenis huruf yang akan disebutkan pada pelajaran berikutnya.
Isim dhomir (اسم ضمير)

Merupakan isim yang digunakan sebagai kata ganti, diantaranya:
Photobucket



Namun, jika isim dhomir bergandengan dengan isim yang lain, maka bentuknya seperti dibawah ini :
Photobucket

Contoh :
رَبُّكَ Tuhanmu
كِتاَبِي Kitabku
كِتَابِنَا Kitab Kami
Dari hal ini, ketika berdoa dihadapan orang banyak, seperti doa di akhir khutbah jum’at, hendaknya menggunakan kata نا bukan ي dalam berdoa, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para khotib, seperti membaca doa
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَي دِيْنِكَ
(wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku pada agamamu)
Padahal seharusnya, ketika dibaca dihadapan orang banyak, harus dibaca dengan kalimat
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَي دِيْنِكَ
(wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami pada agamamu

Ø      FI'IL MA'LUM  - FI'IL MAJHUL

Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif. Perhatikan contoh berikut ini:
Abubakar membuka pintu. --> kata "membuka" disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. --> kata "dibuka" disebut Kata Kerja Pasif.
Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul yang fungsinya mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:
ضَرَبَ عُمَرُ
ضُرِبَ عُمَرُ
(= Umar memukul)
(= Umar dipukul)
Fi'il  ضَرَبَ (=memukul) adalah Fi'il Ma'lum (Kata Kerja Aktif). Fa'il atau Pelakunya adalah Umar bersifat aktif (melakukan pekerjaan yakni memukul).
Fi'il  ضُرِبَ (=dipukul) adalah Fi'il Majhul (Kata Kerja Pasif). Fa'il atau Pelakunya tidak diketahui (tidak disebutkan). Untuk itu, dalam Fi'il Majhul, dikenal istilah Naib al-Fa'il ( نَائِبُ الْفَاعِل ) atau Pengganti Fa'il (Pelaku). Dalam contoh di atas, Umar adalah Naib al-Fa'il (pengganti Pelaku).
Fi'il Majhul dibentuk dari Fi'il Ma'lum dengan perubahan sebagai berikut:
a) Huruf pertamanya menjadi berbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi'il Madhy dan menjadi berbaris Fathah untuk Fi'il Mudhari'.

Fi'il Madhy
Fi'il Mudhari'
Fi'il Ma'lum
Fi'il Majhul
Fi'il Ma'lum
Fi'il Majhul
فَعَلَ
فُعِلَ
يَفْعَلُ
يُفْعَلُ

Contoh-contoh dalam kalimat:
Fi'il Madhy أَمَرَ (=memerintah) menjadi Fi'il Majhul أُمِرَ (=diperintah):
أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ
= aku diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ
= kami diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= engkau (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتِ أَنْ تَعْبُدِي اللهَ
= engkau (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُمَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= kamu berdua diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ
= kalian (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْتُنَّ أَنْ تَعْبُدْنَ اللهَ
= kalian (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ
= dia (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَتْ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ
= dia (pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَا أَنْ يَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرَتَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ
= mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرُوْا أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ
= mereka (lk) diperintah agar menyembah Allah
أُمِرْنَ أَنْ يَعْبُدْنَ اللهَ
= mereka (pr) diperintah agar menyembah Allah

Fi'il Mudhari' يَعْرِفُ (=mengenal) menjadi Fi'il Majhul يُعْرَفُ (=dikenal):
أُعْرَفُ بِكَلاَمِيْ
= aku dikenal dari bicaraku
نُعْرَفُ بِكَلاَمِنَا
= kami dikenal dari bicara kami
تُعْرَفُ بِكَلاَمِكَ
= engkau (lk) dikenal dari bicaramu
تُعْرَفِيْنَ بِكَلاَمِكِ
= engkau (pr) dikenal dari bicaramu
تُعْرَفَانِ بِكَلاَمِكُمَا
= kamu berdua dikenal dari bicara kamu berdua
تُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِكُمْ
= kalian (lk) dikenal dari bicara kalian
تُعْرَفْنَ بِكَلاَمِكُنَّ
= kalian (pr) dikenal dari bicara kalian
يُعْرَفُ بِكَلاَمِهِ
= dia (lk) dikenal dari bicaranya
تُعْرَفُ بِكَلاَمِهَا
= dia (pr) dikenal dari bicaranya
يُعْرَفَانِ بِكَلاَمِهِمَا
= mereka (2 lk) dikenal dari bicara mereka
يُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِهِمْ
= mereka (lk) dikenal dari bicara mereka
يُعْرَفْنَ بِكَلاَمِهِنَّ
= mereka (pr) dikenal dari bicara mereka

Carilah contoh-contoh Fi'il Majhul dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah » Alfiyah Bait 457-462

–·•Ο•·–

أبْنِيَةُ أسْمَاءِ الْفَاعِلِينَ والْمَفعُولِينَ وَالصَّفاتِ المُشَبَّهةِ بِهَا

Bentuk-bentuk Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah

كَفَاعِلٍ صُغ اسْمَ فَاعِلٍ إذَا ¤ مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ يَكُونُ كَغَذَا

Bentuklah Isim Fa’il seperti wazan FAA’ILUN, apabila berupa Fi’il Tsulatsi. Contoh: GHODZAA (bentuk Isim Fa’ilnya GHOODIN asalnya GHOODIWUN) 

وَهُوَ قَلِيلٌ فِي فَعُلْتُ وَفَعِلْ ¤ غَيْرَ مُعَدَّى بَلْ قِيَاسُهُ فَعِلْ

Isim Fa’il wazan FAA’ILUN tersebut jarang digunakan pada Fi’il wazan FA’ULA (dhommah’ain fiilnya) dan Fi’il wazan FA’ILA (karoh ‘ain fiilnya) yang tidak Muta’addi, bahkan qias Isim Fa’ilnya berwazan FA’ILUN, <lanjut ke bait berikutnya). 

وَأفْعَلٌ فَعْلَانُ نَحْوُ أشِرِ ¤ وَنَحْوُ صَدْيَانَ وَنَحْوُ الأَجْهَرِ

atau wazan AF’ALUN atau wazan FA’LAANU. Contoh: ASYIRUN, SHODYAANU dan AJHARU.  

وَفَعْلٌ أوْلَى وَفَعِيلٌ بِفَعُلْ ¤ كَالضَّخْمِ وَالْجَمِيل وَالْفِعْلُ جَمُلْ

Isim Fa’il wazan FA’LUN dan FA’IILUN lebih utama untuk Fi’il wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya). Contohnya DHOHMUN dan JAMIILUN Fi’ilnya berlafazh JAMULA  

وَأفعَلٌ فِيهِ قَلِيلٌ وَفَعَلْ ¤ وَبِسِوَى الْفَاعِلِ قَدْ يَغْنَى فَعَلْ

Adapun Isim Fa’il berwazan AF’ALUN dan FA’LUN pada Fi’il FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) adalah jarang. Selanjutnya Fi’il wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) terkadang cukup dengan bentuk Isim Fa’il selain wazan FAA’ILUN.  

–·•Ο•·–
Bab ini disimpulkan oleh Mushannif untuk menerangkan tentang wazan-wazan Isim Fa’il, Isim Maf’ul, juga Shifat Mushabbahah.
Abniyatu Asmaa’il Faa’iliina, menggunkan bentuk jamak mudzakkar salim (Faa’iliina) dimaksudkan adalah bentuk Isim subjek/pelaku yang didominasi oleh subjek berakal. Ash-shifaatil-Mushabbahati Bihaa, athaf kepada lafazh Asmaa’i, secara ringkas dapat diartikan bentuk sifat yang diserupakan Isim Fa’il dan Isim Maf’ul. Akan tetapi dijelaskan nanti pada Bab berikutnya yaitu Bab As-shifatul-Musyabbahatu bi Ismil-Faa’il. Dengan demikian dhamir “Bihaa” pada Bab ini menunjukkan bahwa Marji’nya hanya kepada Asmaa’il Faai’liina saja.
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Fi’il terbagi dua:
1. Fi’il Tsulatsi
2. Fi’il Ghair Tsulatsi
Disebutkan juga bahwa Fi’il Tsulatsi terdapat tiga wazan:
1. FA’ALA, Fathah ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
2. FA’ILA, Kasroh ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
3. FA’ULA, Dhommah ‘Ain, Lazim.
oOo
Berikut adalah Wazan-Wazan Isim Fa’il dan Sifat Mushabbahah:
1. Fi’il berwazan FA’ALA maka Isim Fa’ilnya ikut wazan FAA’ILUN, baik Muta’addi atau Lazim.
Contoh yang Muta’addi:

ضرب – ضارب. أخذ – آخذ

DHARABA-DHAARIBUN = Yang Memukul
AKHADZA-AAKHIDUN = Yang Mengambil
Contoh yang Lazim:

جلس – جالس. خرج – خارج

JALASA-JAALISUN = Yang Duduk
KHARAJA-KHAARIJUN = Yang Keluar
oOo
2. Fi’il berwazan FA’ILA maka Isim Fa’ilnya :
a. ikut wazan FAA’ILUN apabila Muta’addi. Contoh :

ركب – راكب. شرب – شارب

RAKIBA-RAAKIBUN = Yang Menunggang
SYARIBA-SYAARIBUN = Yang Meminum

b. Juga ikut wazan FAA’ILUN apabila Lazim tapi jarang. Contoh:

سلم – سالم. عقرت -عاقر

SALIMA-SAALIMUN = Yang Selamat/Sentosa
‘AQIRAT-‘AAQIRUN = Yang Mandul
d. apabila Lazim paling banyak ikut wazan:
1. FA’ILUN (lk) FA’ILATUN (pr). biasanya menunjukkan tentang makna penyakit-penyakit jasmani atau tabiat atau sifat-sifat batin semisal kebahagiaan, kesedihan, kebaikan dll. Contoh:

فطِنَ – فَطِنٌ

FATHINA -FATHINUN = yang cerdas

فرح – فرِحٌ

FARIHA-FARIHUN = yang gembira

بَطِر – بَطِرٌ

BATHIRA-BATHIRUN = yang angkuh/tidak mensyukuri Nikmat.

وحَذِرَ – حَذِرٌ

HADZIRA-HADZRUN = yang berhati-hati/waspada

وتَعِب – تعب

TA’ABA-TA’IBUN = yang payah/cape
2. AF’ALA (lk) FA’LAA’A (pr). biasanya menunjukkan tentang makna keadaan bentuk corak atau warna atau cacat. Contoh:

حَمِر فهو أحمر

HAMIRA-AHMARA = yang merah

عرج فهو أعرج

ARIJA-A’RAJA = yang pincang

عور فهو أعور

AWIRA-A’WARA = yang jahat/tidak baik

كحل فهو أكحل

KAHILA-AKHALA = yang hitam
oOo
3. Fi’il berwazan FA’ULA maka Isim Fa’ilnya :
a. juga ikut wazan FAA’ILUN tapi jarang. Contoh :

طهُر فهو طاهر

THAHURA-THAAHIRUN = yang bersih/suci

حمُضَ فهو حامض

HAMUDHA-HAAMIDHUN = yang masam
b. Yang banyak ikut wazan :
1. FA’LUN, contoh:

ضحُم – ضخْم

DHAKHUMA-DHAKHMUN = Yang Gemuk

شهُم – شهْم

SYAHUMA-SYAHMUN = yang tangkas/cekatan

صَعُب فهو صَعْب

SHA’UBA-SHA’BUN = yang sulit
2. FA’IILUN, contoh:

شرُف فهو شريف

SYARUFA – SYARIIFUN = yang mulia

نبل فهو نبيل

NABULA – NABIILUN = yang mulia

وقبُح فهو قبيح

QABUHA – QABIIHUN = yang jelek/tidak baik
c. sedikit ikut wazan :
1. AF’ALA, contoh:

خظب فهو أخظب

KHATZABA-AKHTHABA = yang merah kehitaman
2. FA’ALA, contoh:

حَسُن فهو حَسنٌ

HASUNA – HASANUN = yang bagus

وبَطُل فهو بطلٌ

BATHULA – BATHALUN = yang juara/pahlawan
o0o
Kadang-kadang ada Fi’il Ttsulatsi wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) tercukupi tanpa mengikuti wazan Isim Fa’il FAA’ILUN, seperti contoh:

طاب فهو طيب

THAABA – THAYYIBUN = yang baik

شاخ فهو شيخ

SYAAKHA – SYAIKHUN = yang tua

شاب فهو أشيب

SYAABA – ASY-YABU = yang muda
oOo
Kemudian disebutkan oleh mushannif pada Bait diatas (lihat bait ke 458 dan 459). Dapat difahami bahwa Isim Fa’il wazan FAA’ILUN jarang digunakan untuk kedua Fi’il wazan FA’ULA dan juga FA’ILA, yakni bentuk wazan Isim Fa’il FAA’ILUN banyak digunakan pada selain kedua wazan fi’il FA’ULA dan FA’ILA. Selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk Isim Fa’il dari keduanya berwazan FA’ALA, AF’ALA dan FA’LAANA. Dan dicontohkan dalam Bait oleh Mushannif dengan contoh sbb:

أشِرَ – أشِرٌ

ASYIRA – ASYIRUN = yang angkuh/tidak menyukuri Nikmat.

صَدِيَ – صديان

SYADIYA – SHADYAANU = yang kehausan

جَهِر – أجهر

JAHIRA – AJHARU = yang tak dapat melihat di siang hari

Tanda I'rob Kalimat Fi'il Mu'tal

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

والرَّفعَ فِيْهِمَا انْوِ وَاحْذِفْ جَازِمَا ¤ ثَــلاَثَـــهُنَّ تَقـْـــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) dimana engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang pasti.
Disebutkan dalam bait-bait ini tentang kalimah yang mu’tal bagian kedua. Yaitu kalimah Mu’tal untuk kata kerja/kalimah Fi’il. Adalah pembahasan terakhir dari kitab Alfiyah Bab Mu’rab dan Mabni. Merupakan bagian ketujuh dari tanda-tanda irab niyabah atau irab pengganti asal.
Pengertian kalimah Fi’il Mu’tal adalah: setiap kalimah Fi’il yang berakhiran huruf wau setelah harakat dhammah, atau berakhiran huruf ya’ setelah harakat kasrah, atau berakhiran alif setelah harakat fathah. Maksud dari kalimah Fi’il dalam hal ini adalah Fi’il Mudhari’. Sebab asal pembahasan mengenai kalimah Mu’rab.
Tanda I’rab Fi’il Mu’tal:
(1). Mu’tal Alif:
Rafadengan Dhammah yang dikira-kira atas alif, dicegah i’rab zhahirnya karena udzur, contoh:

الْمُتَّقِيْ يَخْشَى رَبَّهُ

Orang yang bertaqwa adalah dia yang takut kepada Tuhannya.

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Nashab dengan fathah yang dikira-kira atas alif. contoh:

لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ بِاْلأَذَى

seorang yang berakal tidak akan rela disakiti.

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقََى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إلاَّ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu
Jazm dengan membuang huruf Illah Alif, dan harakat Fathah adalah sebagai buktinya. contoh:

الْعَاصِيْ لَمْ يَخْشَ رَبَّهُ

Orang yang suka maksiat adalah dia yang tidak takut kepada Tuhannya.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
°
(2). Mu’tal Wau:
Rafa‘ dengan dikira-kira atas wau, dicegah i’rab zhahirnya karena berat. contoh:

الْمُوَحِّدُ لاَ يَدْعُوْ إلاَّ اللهَ

Seorang yang meyakini keesaan Allah, dia tidak menyeru kecuali kepada-Nya.

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu
Nashab dengan harakat Fathah zhahir atas wau, karena paling ringnnya harakat. contoh:

لَنْ يَسْمُوَ أَحَدٌ إلاَّ بِأَدَبِهِ

seseorang tidak akan dipandang kecuali dengan budi perkertinya.

لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia
Jazm dengan membuang huruf Illah Wau, dan harakat Dammah adalah sebagai buktinya. contoh:

لا تَدعُ على أولادك

Jangan.. berdo’a jelek untuk anak-anakmu…!

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ

Maka biarlah dia memanggil golongannya.
°
(3). Mu’tal Ya’:
Rafa‘ dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya’, dicegah i’rab zhahirnya karena berat, contoh:

أَنْتَ تُرَبِّيْ أَوْلاَدَكَ عَلَى الْفَضِيْلَةِ

Kamu didik anak-anakmu dengan kemulyaan.

لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ يُحْيِِيْ وَيُمِيْتُ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.
Nashab dengan harakat Fathah Zhahir atas Ya’, karena merupakan peling ringannya harakat. contoh:

لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيْرَ شَيْئاً إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهِ

Jangan berikan sesuatupun kepada orang faqir kecuali engkau diganjar untuk itu.

قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”
Jazm dengan membuang huruf Illah berupa Ya’, dan harakat Kasrah merupakan buktinya. contoh:

لاَ تُؤْذِ جَارَكَ بِقُتَارِ قِدْرِكَ

Jangan sakiti hati tetanggamu dengan bau asap periukmu…!

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya

Ø      FI'IL AMAR (Kata Kerja Perintah)
Fi'il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi'il yang berisi pekerjaan yang dikehendaki oleh Mutakallim (pembicara) sebagai orang yang memerintah agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara) sebagai orang yang diperintah.

Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa'il (Pelaku) dari Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau "orang kedua" sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dhamir Mukhathab terdiri dari:
 
أَنْتُنَّ - أَنْتُمْ - أَنْتُمَا - أَنْتِ - أَنْتَ .
Fa'il
Fi'il Amar
Tarjamah
أَنْتَ
اِفْعَلْ
= (engkau -lk) kerjakanlah!
أَنْتِ
اِفْعَلِيْ
= (engkau -pr) kerjakanlah!
أَنْتُمَا
اِفْعَلاَ
= (kamu berdua) kerjakanlah!
أَنْتُمْ
اِفْعَلُوْا
= (kalian -lk) kerjakanlah!
أَنْتُنَّ
اِفْعَلْنَ
= (kalian -pr) kerjakanlah!

Contoh dalam kalimat: dari fi'il 
عَمِلَ (= beramal, bekerja) menjadi Fi'il Amar:
اِعْمَلْ لآِخِرَتِكَ
= bekerjalah untuk akhiratmu (lk)
اِعْمَلِيْ لآِخِرَتِكِ
= bekerjalah untuk akhiratmu (pr)
اِعْمَلاَ لآِخِرَتِكُمَا
= bekerjalah untuk akhirat kamu berdua
اِعْمَلُوْا لآِخِرَتِكُمْ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (lk)
اِعْمَلْنَ لآِخِرَتِكُنَّ
= bekerjalah untuk akhirat kalian (pr)


Dari fi'il 
أَقَامَ (=mendirikan) menjadi Fi'il Amar:
أَقِمْ صَلاَتَكَ
= dirikanlah shalatmu (lk)
أَقِمِيْ صَلاَتَكِ
= dirikanlah shalatmu (pr)
أَقِمَا صَلاَتَكُمَا
= dirikanlah shalat kamu berdua
أَقِيْمُوْا صَلاَتَكُمْ
= dirikanlah shalat kalian (lk)
أَقِمْنَ صَلاَتَكُنَّ
= dirikanlah shalat kalian (pr)
Dari fi'il كَبَّرَ (=membesarkan) menjadi Fi'il Amar:
كَبِّرْ رَبَّكَ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (lk)
كَبِّرِيْ رَبَّكِ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (pr)
كَبِّرَا رَبَّكُمَا
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu berdua
كَبِّرُوْا رَبَّكُمْ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (lk)
كَبِّرْنَ رَبَّكُنَّ
= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (pr)

Sebagai catatan, bila huruf akhir yang sukun dari sebuah Fi'il bertemu dengan awalan Alif-Lam dari sebuah Isim Ma'rifah, maka baris sukun dari huruf akhir fi'il tersebut berubah menjadi baris kasrah. Contoh:
الصَّلاَةَ
+
أَقِمْ
=
أَقِمِ الصَّلاَةَ

(=shalat)

(=dirikanlah)

(=dirikanlah shalat)



Jamid dan Mutasharrif

Kata kerja/ kalimah fi’il (الفعل) terbagi menjadi:
  1. Fi’il Jamid (الفعل الجامد)
  2. Fi’il Mutasharrif (الفعل المتصرف).

الفِعْلُ الْجَامِدُ

Fi’il Jamid (statis)


Fi’il Jamid Adalah Kalimah Fi’il yang hanya mempunyai satu bentuk Shighah. Baik hanya berbentuk Fi’il Madhi saja. atau hanya berbentuk Fi’il Amar saja. Atau ada hanya berbentuk Fi’il Mudhari’  saja tapi jarang.

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Madhi saja:
FI’IL MADHI JAMID
TERJEMAH
CONTOH

عَسَى

Mengharap

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ

mudah-mudahan Allah memaafkan mereka

لَيْسَ

Meniadakan

وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya

بِئْسَ

Celaan, Kecaman

بِئْسَ الرَّجُلُ أبُو لَهَبَ

Seburuk-buruknya lelaki adalah Abu Lahab

نِعْمَ

Pujian, Sanjungan

نِعْمَ الرَّجُلُ أبُو بَكْرٍ

Sebaik-baiknya lelaki adalah Abu Bakar

تَبَارَكَ

Maha Suci

تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Amar saja:
FI’IL AMAR JAMID
TERJEMAH
CONTOH

تَعَلَّمْ

Percayalah!

تَعَلَّمْ أَنّ الرِّبَا بَلاَءٌ

Percayalah! Sesungguhnya Riba itu membawa petaka

هَبْ

Anggaplah!

فَقُلْتُ أَجِرْنِي أَبَا خَالِدٍ × وَإِلاَّ فَهَبْنِي امْرَأً هَالِكًا

Aku Cuma bisa berkata… pertahankanlah aku wahai Abu Khalid…atau jika tidak… maka anggaplah aku seorang yang telah binasa

تَعَالَ

Kemari!, Yuk!

هَيَّا زَيْد تَعَالَ

Hai Zaid…Kemarilah!

هَاتِ

Bawalah kemari!, Tunjukkanlah!

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”

Contoh Fi’il Jamid yang hanya mempunyai bentuk Fi’il Mudhari’ saja:
FI’IL MUDHARI’ JAMID
TERJEMAH
CONTOH

يَهْبِطُ

Memekik, mengerang, berteriak karena takut.


الفِعْلُ الْمُتَصَرِّفُ

Fi’il Mutasharrif (elastis)


Fi’il Mutasharrif adalah kalimah fi’il yang dapat berubah bentuknya sesuai tashrif ishtilahiy. Fi’il Mutasharrif terbagi dua:

1. Tam Tasharruf (تام التصرّف)
(sempurna dalam mutasharrif-nya)
Fi’il Tam Tasharruf adalah kalimah fi’il Mutasharrif yang tersedia dalam tiga bentuk Fi’il Tiga Serangkai (Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar) seperti نصر dan دحرج.
FI’IL AMAR
FI’IL MUDHARI’
FI’IL MADHI

اُنْصُرْ!

يَنْصُرُ

نَصَرَ

دَحْرِجْ!

يُدَحْرِجُ

دَحْرَجَ


2. Naqis Tasharruf (ناقص التصرّف)
(cacat dalam mutasharrif-nya)
Fi’il Naqis Tasharruf adalah kalimah fi’il Mutasharrif yang tidak tersedia untuk semua bentuk Fi’il Tiga Serangkai. Baik hanya berbentuk Mudhari’ dan Madhi saja, atau Mudhari’ dan Amar saja, Seperti contoh pada table.
FI’IL AMAR
FI’IL MUDHARI’
FI’IL MADHI

×

يَكَادُ

كَادَ

×

يُوْشِكُ

أَوْشَكَ

دَعْ!

يَدَعُ

×

ذَرْ!

يَذَرُ

×


تَصَرُّفُ الْمُضَارِعِ

Tashrif pada Fi’il Mudhari’


Tata cara men-tashrif/pengubahan fi’il mudhri’ yang dibuat dari asal Fi’il Madhi adalah pada awal kalimah fi’il madhi tsb ditambahi dengan Huruf Mudhara’ah (ا – ن – ي – ت).

Huruf Mudhara’ah-nya diharkati dhammah apabila ditambahi pada Fi’il Madhi yang berjumlah empat huruf. contoh table:
HURUF MUDHARA’AH DI-DHAMMAH-KAN
DARI FI’IL MADHI 4 HURUF

يُكْرِمُ

أَكْرَم

يُفَرِّحُ

فَرَّحَ

يُقَاتِلُ

قَاتَلَ

يُدَحْرِجُ

دَحْرَجَ


Huruf Mudhara’ah-nya diharkati Fathah apabila ditambahi pada Fi’il Madhi yang selain berjumlah empat huruf. Lihat tabel berikut:
HURUF MUDHARA’AH DI-FATHAH-KAN
BUKAN FI’IL MADHI 4 HURUF

يَنْصُرُ

نَصَرَ

يَنْكَسِرُ

انْكَسَرَ

يَجْتَمِعُ

اجْتَمَعَ

يَحْمَرُّ

احْمَرَّ

يَتَكَلَّمُ

تَكَلَّمَ

يَتَبَاعَدُ

تَبَاعَدَ

يَسْتَخْرِجُ

اسْتَخْرَجَ

يَعْشَوْشَبُ

اعْشَوْشَبَ

يَجْلَوَّذُ

اجَلَوَّذّ

يَحْمَارُّ

احْمَارَّ

يَتَدَحْرَجُ

تَدَحْرَجَ

يَحْرَنْجَمُ

احْرَنْجَمَ

يَقْشَعِرُّ

اقْشَعَرَّ


تَصَرُّفُ الأَمْرِ

Tashrif pada Fi’il Amar


Tata cara men-tashrif/pengubahan fi’il Amar yang dibuat dari asal fi’il Mudhari’ adalah sebagai berikut:

Huruf Mudhara’ahnya harus dibuang. contoh table:
BENTUK FI’IL MUDHARI’
BENTUK FI’IL AMAR

يُفَرِّحُ

فَرِّحْ!

يُقَاتِلُ

قَاتِلْ!

يُدَحْرِجُ

دَحْرِجْ!

يَتَكَلَّمُ

تَكَلَّمْ!

يَتَبَاعَدُ

تَبَاعَدْ!

يَتَدَحْرَجُ

تَدَحْرَجْ!


Dan bilamana setelah pembuangan Huruf Mudhara’ah pada awal kalimahnya berupa sukun, maka ditambahi Hamzah pada awal kalimah tsb. contoh table:
BENTUK FI’IL MUDHARI
BENTUK FI’IL AMAR

يَنْصُرُ

أُنْصُرْ!

يَنْكَسِرُ

انْكَسِرْ!

يَجْتَمِعُ

اجْتَمعْ!

يَحْمَرُّ

احْمَرِّ!

يَسْتَخْرِجُ

اسْتَخْرِجْ!

يَعْشَوْشَبُ

اعْشَوْشَبْ!

يَجْلَوَّذُ

اجَلَوَّذّ!

يَحْمَارُّ

احْمَارَّ!

يَحْرَنْجَمُ

احْرَنْجَمْ!

يَقْشَعِرُّ

اقْشَعِرَّ!



0 komentar

Posting Komentar