BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hadis Nabi saw telah disepakati oleh mayoritas
ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci
al-Qur’an. Berbeda dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh
Nabi saw secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi
saw masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar
al-Shiddiq, sebagian besar hadis Nabi saw tidaklah diriwayatkan secara
mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar
bin Abdul Azis, salah seorang khalifah Bani Umayyah. Hal yang disebutkan
terakhir, didukung oleh beberapa faktor lainnya, oleh sekelompok kecil
(minoritas) umat Islam dijadikan sebagai alasan untuk menolak otoritas
hadis-hadis Nabi saw sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam yang wajib ditaati
dan diamalkan. Dalam wacana ilmu hadis, dikenal dangan kelompok inkar
al-sunnah.
Secara paradigma pemikiran dan pemahaman,
sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah,
dan Syiah .Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa
sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah
pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
B. Rumusan
Masalah
A. Bagaimana pengertian
surah Huud ayat 61?
B. Apa hubungan
surah Huud ayat 61 dengan pendidikan?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah :
A. Menggali
informasi mengenai Tafsir Tarbawi.
B. Melengkapi
salah satu tugas mata kuliah.
C. Menyampaikan arti Surat
yang sesuai dengan Ajarannya.
D. Sebagai pengetahuan
untuk umat manusia supaya bisa menjalankan sunnah rasul tentang keberadaan
Qur’an dan Hadist.
E. Mencari
sumber informasi untuk dapat menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari
sebagai umat Rasulullah yang menjalankan Sunnahnya.
D. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode library dan internet
searching, yang mana dalam penyusunan makalah ini penyusun menggunakan refrensi
yang diperoleh dari perpustakaan dan hasil pencarian di internet yang sesuai
dengan pembahasan makalah ini.
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan
pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan
terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya,
sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan
fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi
individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang
mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan
institusi pendidikan.
Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya
hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan.
Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan
telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang
pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis
yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan
memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis
dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama,
ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan
menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi
anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut
tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis
sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.
Dalam budaya Barat
sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan
dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan
Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki
pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi
Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya
gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan
Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.
Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif
dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para
anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan
mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat
dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga
memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam
pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam
Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Fungsi Pendidikan
Peranan pendidikan dalam
pengembangan kualitas sumber Jaya insani secara mikro, yaitu sebagai proses
belajar-mengajar: alih pengetahuan (transfer of knowledge), alih metode
(transferof methodology), dan alih nilai (transfer of value).Fungsi pendidikan
sebagai sarana alih pengetahuan dapat ditinjau dari teori “human capital”; bahwa
pendidikan tidak dipandang sebagai barang konsumsi belaka tetapi juga sebagai
sebuah investasi. Hasil investasi ini berupa tenaga kerja yang mempunyai
kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam proses
produksi dan pembangunan pada umumnya. Dalam kaitan ini proses alih pengetahuan
dalam rangka pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkernbangnya
manusia pembangunan. Dengan ilustrasi yang serupa, proses alih pengetahuan
ini juga berperan pada proses pembudayaan dan pembinaan iman, takwa dan akhlak
mulia. Berkaitan dengan proses pembudayaan barangkali pendidikan keimanan dapat
mewakili semua maksud tersebut. Inti penting dari keimanan itu adalah tauhid
kepada Allah SWT.
Jika di inginkan adanya konsistensi, maka dalam membahas
segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan Islam, tidak mungkin
melakukannya tanpa melihat hubungannya dengan tauhid atau faham Ketuhanan
Yang Maha Esa. Seperti diketahui, bahwa tauhid adalah fondasi atau asas bagi semua
bangunan Islam, bahkan seharusnya fondasi bagi semua bangunan kemanusiaan
yang benar. Tauhid adalah bagian paling inti dari ajaran Islam. Karena
itu, semua pandangan tentang pendidikan harus berpangkal pada hidup tauhid. Berkenaan
dengan itu, salah satu implikasi pokok tauhid, ialah pemusatan kesucian hanya kepada
Allah SWT (makna tasbih, ucapan subhanallah) dan pencopotan kesucian itu dari
segala sesuatu selain Allah SWT. Dalam konteks bangsa Arab di zaman Nabi SAW pandangan
ini berakibat dilepaskannya nilai-nilai kesucian dari pandangan kesukuan
dan kepemimpinan
Kesukuan
.Pendidikan keimanan ini dapat dirangkaikan bertujuan untuk menanamkan kepada
anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam, dan dasar-dasar syari’at. Pendidikan
keimanan ini menempatkan hubungan antara hamba dengan khaliknya menjadi
bermakna. Perbuatannya bertujuan dan berakhlak mulia, sehingga pada
akhirnya ia akan memiliki kompetensi dalam memegang peranan khalifah di muka
bumi. Pendidikan keimanan ini dapat dilihat sebagaimana yang pernah dicontohkan
oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut:
“Bacakanlah
pada anak-anak kamu kalimat pertama dengan Laa Ilaha Illa Allah (tiada
Tuhan selain Allah)” (HR. Hakim). Hadits ini mengisyaratkan bahwa sebagai manusia
homo educandum dan homo educandus bahwa kalimat tauhid merupakan hal
pertama yang harus masuk atau diperdengarkan dan diajarkan kepada anak sebagai
penanaman dasar-dasar keimanan. Itu berarti kalirnat tauhid merupakan hal urgen
yang harus mendasari rumusan kurikulum yang akan dibentuk. merupakan pangikat
kuat sekaligus dasar fundamen dalam kehidupan manusia untuk mengemban fungsi
kekhalifahan dalam kehidupan beragama, dan berbangsa demi memperoleh kedamaian, ketenteraman dan keberkahan hidup .Fungsi
pendidikan sebagai sarana alih metode terutama amat berperan pada pengembangan kemampuan
penerapan teknologi dan profesionalitas seseorang. Penguasaan pada “tecno-sciences”
lebih merupakan suatu dari proses transfer of methodology dari pada transfer
of knowledge. Penguasaan teknologi dalam sistem pembelajaran informasi
merupakan sesuatu yang harus dikuasai oleh pendidikan agama. Menguasai peluang
atau manejemen masa depan diharuskan dapat mengetahui dan menguasai
informasi. Menguasai informasi dan teknologi sama artinya dengan menguasai masa
depan. Tegasnya penguasaan teknolgi informasi tak dapat dipisahkan dari
kehidupan pendidikan agama masa depan.Fungsi pendidikan sebagai proses alih
nilai, secara makro mempunyai tiga sasaran. Pertama, bahwa tujuan
pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara
kemampuan kognitif dan psikomotor di satu pihak serta kemampuan afektif di
pihak lain. Dalam konteks ke-Indonesia-an, hal ini dapat diartikan bahwa
pendidikan menghasilkan manusia yang berkepribadian, tetap menjunjung tinggi
nilai-nilai budaya yang luhur, serta mmpunyaiwawasan, sikap kebangsaan dan
menjaga seta memupuk jati dirinya. Dalam hal ini proses alih nilai dalam rangka
proses pembudayaan. Kedua, dalam sistem ini nilai yang dialihkan juga termasuk
nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia yang senantiasa menjaga harmonisasi
hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya.Ketiga,
dalam alih nilai juga dapat ditransformasikan tata nilai yang mendukung proses
industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti: penghargaan akan waktu,
disiplin, etos kerja,kemandirian, kewirausahaan, dan sebagainya. Seperti
diketahui, bahwa era industrialisasi yang berorientasi pada penggunaan
teknologi memerlukan sikap dan pola pikir yang menunjang kearah pemanpaatan dan
penerapan teknologi tersebut. Sikap dan pola pikir yang mengarah
pada penggunaan teknologi meliputi antara lain penggunaan waktu secara
efisien, perencanaan ke masa depan, kreatif, inovatif, etos kerja yang tinggi.
Nilai-nilai dan prinsip dasar semua itu dapat ditemukan dalam
al-Qur’an. Pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia serta pembudayaan pada
dasarnya meliputi pembinaan tentang: keyakinan, sikap, perilaku, dan akhlak
mulia serta nilai-nilai luhur budaya bangsa. Semua aspek kehidupan tersebut
dapat berkembang apabila ada pemahaman, wawasan keagamaan dan budaya yang
diperoleh dari proses alih pengetahuan, serta internalisasi nilai-nilai Qur’ani
dan budaya yang diperoleh dari proses alih nilai. Dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat proses alih nilai berlangsung secara lebih berkesinambungan sehingga
interaksi terjadi secara epektif dibandingkan dengan yang terjadi dalam
kelas. Di samping faktor pembiasaan dan keteladanan di atas, pembinaan
iman, taqwa dan akhlak mulia serta pembudayaan dalam keluarga, juga lebih
dapat berhasil karena adanya penghayatan terhadap nilai-nilai al-Qur’an yang
melahirkan keyakinan, sikap, perilaku, dan akhlak mulia di atas. Dalam
upaya aktualisasi nilai-nilai Qur’ani, maka optimalisasi peran keluarga harus
dilakukan,di samping memperkuat lembaga pendidikan formal. Dengan demikian,
tanggung jawab akan dipikul bersama oleh guru, prang tua dan masyarakat.Tujuan
yang akan dicapai adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak
mulia,maju dan mandiri sehingga memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi serta
mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Dengan demikian
diharapkan bahwa bangsa Indonesia yang terkenal sangat religius ini akan
menjadi bangsa yang kuat dan maju serta makmur dan sejahtera, terutama maju
dalam dunia pendidikan sebagai basis pembangunan suatu bangsa.
II. Kandungan
Ayat Al-Qur'an
A. Al-Qur’an Surat
Huud ayat 61 :
Tugas manusia dimuka bumi ini tidak lain adalah
untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri
lebih-lebih lingkungan-nya sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana
terurai di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61 :
Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh
berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan
selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a
hamba-Nya).”(Huud: 61).
I. ANALISIS
KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai
setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal
itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu
tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan
adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses
pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun
kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai
arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai
pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.
Sebagai pendidikan yang
notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan
syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan
beberapa tokoh adalah :
1. Ahmad
D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identiuk dengan tujuan hidup orang
muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah
untuk menjadi hamba allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan
penyerahan diri kepada-Nya .
2. Dr.
Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri
secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan
pada umumnya”.
3. Muhammad
Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and
spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah
kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
4. Syahminan
Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat
dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk
kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi
dan berpendirian teguh”.
Dari berbagai pendapat tentang tujuan
pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk
mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun
sebagai anggota masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :
1. Tujuan
utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan
tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses
pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT
semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh
ridho dari Yang Maha Kuasa.
2. Pendidikan
Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah
fil ardl yang mempunyai
sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai
pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim
yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.
3. Secara
umum tujuan pendidikan Islam
adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi,
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu
maupun sebagai anggota masyarakat.
Wallahu ‘alam bisshowab
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasy M. Athiyah, 1968, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terj; Bustami A.Goni, dan Djohar Bakry)
, Jakarta : Bulan Bintang.
Al-Abrasy M. Athiyah, 1969, At-Tarbiyah al-Islamiyah wal
Falsafatuha, Isa al-Baby al-Halaby, Qahirah
Al-Attas An Naquib, 1988, Konsep Pendidikan Dalam Islam,
Bandung : Mizan.
Ali Ashraf, 1989, Horison
Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, 1995, Bulughul Maram, (terj; H. Mahrus Ali), Mutiara
Ilmu , Surabaya
Azra. Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam; Tradisi dan
Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Drs. H. Moh. Rifa’i, 1978, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra
M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati
Marimba, Ahmad D, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan
Islam, Bandung : Al-Ma’arif.
Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma
Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia.Yogyakarta: Safiria
Insania Press dan MSI.
Syahminan Zaini, 1986, Prinsip-Prinsip
Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta
: Pustaka al-Husna.

0 komentar
Posting Komentar