coba

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Selasa, 20 Oktober 2015

fungsi pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang

Hadis Nabi saw telah disepakati oleh mayoritas ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci al-Qur’an. Berbeda dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh Nabi saw secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi saw masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, sebagian besar hadis Nabi saw tidaklah diriwayatkan secara mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis, salah seorang khalifah Bani Umayyah. Hal yang disebutkan terakhir, didukung oleh beberapa faktor lainnya, oleh sekelompok kecil (minoritas) umat Islam dijadikan sebagai alasan untuk menolak otoritas hadis-hadis Nabi saw sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam yang wajib ditaati dan diamalkan. Dalam wacana ilmu hadis, dikenal dangan kelompok inkar al-sunnah.
Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah .Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
B.     Rumusan Masalah
A.    Bagaimana pengertian surah Huud ayat 61?
B.     Apa hubungan surah Huud ayat 61 dengan pendidikan?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah :
A.    Menggali informasi mengenai Tafsir Tarbawi.
B.     Melengkapi salah satu tugas mata kuliah.
C.     Menyampaikan arti Surat yang sesuai dengan Ajarannya.
D.    Sebagai  pengetahuan untuk umat manusia supaya bisa menjalankan sunnah rasul tentang keberadaan Qur’an dan Hadist.
E.     Mencari sumber informasi untuk dapat menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Rasulullah yang menjalankan Sunnahnya.

D.    Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode library dan internet searching, yang mana dalam penyusunan makalah ini penyusun menggunakan refrensi yang diperoleh dari perpustakaan dan hasil pencarian di internet yang sesuai dengan pembahasan makalah ini.


Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.
Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.
Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.
Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Fungsi Pendidikan

 Peranan pendidikan dalam pengembangan kualitas sumber Jaya insani secara mikro, yaitu sebagai proses belajar-mengajar: alih pengetahuan (transfer of knowledge), alih metode (transferof methodology), dan alih nilai (transfer of value).Fungsi pendidikan sebagai sarana alih pengetahuan dapat ditinjau dari teori “human capital”; bahwa pendidikan tidak dipandang sebagai barang konsumsi belaka tetapi juga sebagai sebuah investasi. Hasil investasi ini berupa tenaga kerja yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilannya dalam proses produksi dan pembangunan pada umumnya. Dalam kaitan ini proses alih pengetahuan dalam rangka pembinaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk berkernbangnya manusia pembangunan. Dengan ilustrasi yang serupa, proses alih pengetahuan ini juga berperan pada proses pembudayaan dan pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia. Berkaitan dengan proses pembudayaan barangkali pendidikan keimanan dapat mewakili semua maksud tersebut. Inti penting dari keimanan itu adalah tauhid kepada Allah SWT.
Jika di inginkan adanya konsistensi, maka dalam membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan Islam, tidak mungkin melakukannya tanpa melihat hubungannya dengan tauhid atau faham Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti diketahui, bahwa tauhid adalah fondasi atau asas bagi semua bangunan Islam, bahkan seharusnya fondasi bagi semua bangunan kemanusiaan yang benar. Tauhid adalah bagian paling inti dari ajaran Islam. Karena itu, semua pandangan tentang pendidikan harus berpangkal pada hidup tauhid. Berkenaan dengan itu, salah satu implikasi pokok tauhid, ialah pemusatan kesucian hanya kepada Allah SWT (makna tasbih, ucapan subhanallah) dan pencopotan kesucian itu dari segala sesuatu selain Allah SWT. Dalam konteks bangsa Arab di zaman Nabi SAW pandangan ini berakibat dilepaskannya nilai-nilai kesucian dari pandangan kesukuan dan kepemimpinan

Kesukuan .Pendidikan keimanan ini dapat dirangkaikan bertujuan untuk menanamkan kepada anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam, dan dasar-dasar syari’at. Pendidikan keimanan ini menempatkan hubungan antara hamba dengan khaliknya menjadi bermakna. Perbuatannya bertujuan dan berakhlak mulia, sehingga pada akhirnya ia akan memiliki kompetensi dalam memegang peranan khalifah di muka bumi. Pendidikan keimanan ini dapat dilihat sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut:
“Bacakanlah pada anak-anak kamu kalimat pertama dengan Laa Ilaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah)” (HR. Hakim). Hadits ini mengisyaratkan bahwa sebagai manusia homo educandum dan homo educandus bahwa kalimat tauhid merupakan hal pertama yang harus masuk atau diperdengarkan dan diajarkan kepada anak sebagai penanaman dasar-dasar keimanan. Itu berarti kalirnat tauhid merupakan hal urgen yang harus mendasari rumusan kurikulum yang akan dibentuk. merupakan pangikat kuat sekaligus dasar fundamen dalam kehidupan manusia untuk mengemban fungsi kekhalifahan dalam kehidupan beragama, dan berbangsa demi memperoleh  kedamaian, ketenteraman dan keberkahan hidup .Fungsi pendidikan sebagai sarana alih metode terutama amat berperan pada pengembangan kemampuan penerapan teknologi dan profesionalitas seseorang. Penguasaan pada “tecno-sciences” lebih merupakan suatu dari proses transfer of methodology dari pada transfer of knowledge. Penguasaan teknologi dalam sistem pembelajaran informasi merupakan sesuatu yang harus dikuasai oleh pendidikan agama. Menguasai peluang atau manejemen masa depan diharuskan dapat mengetahui dan menguasai informasi. Menguasai informasi dan teknologi sama artinya dengan menguasai masa depan. Tegasnya penguasaan teknolgi informasi tak dapat dipisahkan dari kehidupan pendidikan agama masa depan.Fungsi pendidikan sebagai proses alih nilai, secara makro mempunyai tiga sasaran. Pertama, bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotor di satu pihak serta kemampuan afektif di pihak lain. Dalam konteks ke-Indonesia-an, hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan menghasilkan manusia yang berkepribadian, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang luhur, serta mmpunyaiwawasan, sikap kebangsaan dan menjaga seta memupuk jati dirinya. Dalam hal ini proses alih nilai dalam rangka proses pembudayaan. Kedua, dalam sistem ini nilai yang dialihkan juga termasuk nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia yang senantiasa menjaga harmonisasi hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya.Ketiga, dalam alih nilai juga dapat ditransformasikan tata nilai yang mendukung proses industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti: penghargaan akan waktu, disiplin, etos kerja,kemandirian, kewirausahaan, dan sebagainya. Seperti diketahui, bahwa era industrialisasi yang berorientasi pada penggunaan teknologi memerlukan sikap dan pola pikir yang menunjang kearah pemanpaatan dan penerapan teknologi tersebut. Sikap dan pola pikir yang mengarah pada penggunaan teknologi meliputi antara lain penggunaan waktu secara efisien, perencanaan ke masa depan, kreatif, inovatif, etos kerja yang tinggi. Nilai-nilai dan prinsip dasar semua itu dapat ditemukan dalam al-Qur’an. Pembinaan iman, takwa dan akhlak mulia serta pembudayaan pada dasarnya meliputi pembinaan tentang: keyakinan, sikap, perilaku, dan akhlak mulia serta nilai-nilai luhur budaya bangsa. Semua aspek kehidupan tersebut dapat berkembang apabila ada pemahaman, wawasan keagamaan dan budaya yang diperoleh dari proses alih pengetahuan, serta internalisasi nilai-nilai Qur’ani dan budaya yang diperoleh dari proses alih nilai. Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat proses alih nilai berlangsung secara lebih berkesinambungan sehingga interaksi terjadi secara epektif dibandingkan dengan yang terjadi dalam kelas. Di samping faktor pembiasaan dan keteladanan di atas, pembinaan iman, taqwa dan akhlak mulia serta pembudayaan dalam keluarga, juga lebih dapat berhasil karena adanya penghayatan terhadap nilai-nilai al-Qur’an yang melahirkan keyakinan, sikap, perilaku, dan akhlak mulia di atas. Dalam upaya aktualisasi nilai-nilai Qur’ani, maka optimalisasi peran keluarga harus dilakukan,di samping memperkuat lembaga pendidikan formal. Dengan demikian, tanggung jawab akan dipikul bersama oleh guru, prang tua dan masyarakat.Tujuan yang akan dicapai adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia,maju dan mandiri sehingga memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Dengan demikian diharapkan bahwa bangsa Indonesia yang terkenal sangat religius ini akan menjadi bangsa yang kuat dan maju serta makmur dan sejahtera, terutama maju dalam dunia pendidikan sebagai basis pembangunan suatu bangsa.




II.        Kandungan Ayat Al-Qur'an


A.  Al-Qur’an Surat Huud ayat 61 :


Tugas manusia dimuka bumi ini tidak lain adalah untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana terurai di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61 :

Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).”(Huud: 61). 











I. ANALISIS KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN

Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.
Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :
1.  Ahmad D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identiuk dengan tujuan hidup orang muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya .
2.  Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.
3.   Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”
4.  Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.

Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.


BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP


Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :
1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.
2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.
3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Wallahu ‘alam bisshowab


DAFTAR PUSTAKA


Al-Abrasy M. Athiyah, 1968, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terj; Bustami A.Goni, dan Djohar Bakry) , Jakarta : Bulan Bintang.
Al-Abrasy M. Athiyah, 1969, At-Tarbiyah al-Islamiyah wal Falsafatuha, Isa al-Baby al-Halaby, Qahirah
Al-Attas An Naquib, 1988, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan.
Ali Ashraf, 1989, Horison Baru Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta : Pustaka Firdaus.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, 1995, Bulughul Maram, (terj; H. Mahrus Ali), Mutiara Ilmu , Surabaya
Azra. Azyumardi, 2002, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Drs. H. Moh. Rifa’i, 1978, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, Semarang : PT. Karya Toha Putra
M. Quraisy Shihab, 2002, Tafsir al-Mishbah, Jakarta : Lentera Hati
Marimba, Ahmad D, 1989, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif.
Sanaky, Hujair AH, 2003, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia.Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI.
Syahminan Zaini, 1986, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta : Pustaka al-Husna.







  


0 komentar

Posting Komentar